Inspektorat Kabupaten Tabanan melaksanakan sosialisasi gratifikasi dengan tema “Gratifikasi Dalam Pendidikan”, secara daring melalui media zoom Jumat (1/10) pagi. Sosialisasi dibuka Inspektur Kabupaten Tabanan, Drs. I Gusti Ngurah Supanji, M.Si dengan menghadirkan narasumber dari Penyuluh Anti Korupsi (PAK) yang juga merupakan auditor di Inspektorat Kabupaten Tabanan. Sebanyak 150 peserta mengikuti sosialisasi ini yang berasal dari Kepala Sekolah tingkat SD dan SMP seKabupaten Tabanan.

Inspektur Kabupaten Tabanan mengungkapkan, sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor), menegaskan bahwa korupsi merupakan kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) yang harus diberantas. Agar efektif upaya pemberantasan korupsi tidak cukup hanya dengan membuat peraturan perundang-undangan saja namum juga yang lebih penting adalah membangun sikap mental sumber daya manusia. Tanpa membangun sumber daya manusia yang baik dan berintegritas, mustahil pemberantasan korupsi dapat berjalan dengan maksimal.

Melalui sosialisasi ini diharapkan pelaku di bidang Pendidikan mampu meningkatkan pemahaman tentang gratifikasi, menguraikan proses pelaporan, aspek pencegahan, penindakan, dan pengenalan Sistem Pengendalian Gratifikasi.

Peserta sangat antusias mengikuti kegiatan ini, karena selain pemaparan materi juga diisi dengan sesi bincang santai antara narasumber dengan peserta. Diakhir acara, peserta juga disuguhkan dengan kata-kata bijak Najwa Shihab terkait dengan korupsi.

“Banyak anak muda yang tumbang karena korupsi, mereka lupakan visi dan hanyut pada nikmat duniawi. Bagaimana akan bersikap anti korupsi, jika sejak muda hanya sibuk dengan urusan sendiri?

Anak muda, mari kita ubah orientasi tak terjebak gaya hidup menumpuk materi. Hidup jujur sederhana, menolak jalan instan menghalalkan segala cara.

Mulai tanamkan kepekaan terhadap sesama dan kurangi keegoisan dalam diri.

Apa gunanya sekolah tinggi-tinggi, jika hanya perkaya diri sendiri dan family?

Jangan bosan bicara tentang kebenaran, agar demokrasi tak berakhir dengan Kesia-siaan.”